
Ringkasan Cepat:
- Brent ditutup naik 4,4% ke US$102,31 per barel pada Kamis (1/10/2026), menurut CNBC yang dikutip Waspada.id.
- Pemicunya: laporan AS mengirim gugus kapal induk ketiga ke Timur Tengah di tengah kebuntuan negosiasi dengan Iran.
- Rupiah ditutup di Rp17.882 per dolar AS pada Jumat (2/10), hanya sekitar Rp118 dari level psikologis Rp18.000.
Jakarta, 03 Oktober 2026 — Awas, minyak Brent kembali tembus US$102 per barel pada Kamis (1/10/2026) waktu AS, setelah laporan bahwa Amerika Serikat mengirim kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Lonjakan 4,4% itu menambah tekanan bagi rupiah, karena Indonesia masih berstatus importir minyak neto yang membayar energi dengan dolar.
Mengapa Brent Kembali ke Atas US$102?

Brent naik karena pasar menghitung ulang risiko pasokan dari Timur Tengah. Menurut CNBC yang dikutip idnFinancials, Brent naik 4,4% ke US102,31,sedangkan WTI naik 2,7% ke US92,87 per barel.
Kontrak Desember versi Investing.com, yang dikutip Metro TV, naik 4,6% ke US102,58.Selisih angka ini wajar karena beda kontrak dan waktu penutupan. Kontrak November yang berakhir Rabu sebelumnya ditutup di US103,50.
Lonjakan ini melanjutkan tren September. Sepanjang bulan itu Brent naik sekitar 14%, kenaikan bulanan terbesar sejak Juli, menurut laporan Metro TV.
Ada tiga lapis pemicu:
- Militer AS: Pentagon dilaporkan menyiapkan gugus kapal induk ketiga. Pasukan tambahan diperkirakan tiba akhir November, menurut Waspada.id.
- Selat Hormuz: Sedikitnya tiga kapal tanker dilaporkan diserang saat melintas pekan ini, menurut CNBC via idnFinancials. Vibiznews mencatat jalur ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
- Pasokan bahan bakar: Serangan Ukraina ke kilang Rusia membuat Moskow melarang ekspor solar. China juga menangguhkan ekspor BBM pada Oktober, menurut Journalarta.
Metro TV juga melaporkan Presiden Donald Trump disebut mempertimbangkan kelanjutan serangan ke Iran pada November. Ini belum menjadi keputusan resmi.
Latar konflik ini sudah kami kupas di analisis perang AS-Iran dan Selat Hormuz sepanjang 2026.
Mengapa Harga Minyak Bisa Menekan Rupiah?
Karena Indonesia membeli lebih banyak minyak dan BBM daripada yang diekspor. Harga minyak lebih tinggi berarti kebutuhan dolar untuk impor energi ikut naik, dan itu menekan rupiah.
Rikopedia Research menilai harga di atas US$100 memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia. Menurut analisis itu, kondisi ini juga mempersempit ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter. Ini pandangan analis, bukan pernyataan resmi BI.
Bukti tekanannya terlihat di pasar. Rupiah ditutup melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar AS pada Kamis (1/10), menurut Journalarta. Selain minyak, yield obligasi AS yang tinggi ikut menguatkan dolar.
Bagi pembaca yang ingin memahami dampak harga energi ke kantong rumah tangga, kami pernah mengulas kenaikan BBM saat perang Iran, Yaman, Israel, dan AS memanas.
Rupiah Menguat Jumat, Tapi Risiko Belum Hilang

Rupiah sempat berbalik menguat. Menurut Kontan, rupiah spot ditutup di Rp17.882 per dolar AS pada Jumat (2/10), naik 0,47% dari Rp17.966. Dalam sepekan, rupiah menguat 0,12%.
Liputan6, mengutip Antara, mengaitkan penguatan ini dengan turunnya harapan kenaikan suku bunga The Fed. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.898, menurut FXStreet.
Bank Indonesia juga bergerak. Pada Kamis, BI memperluas surat berharga yang bisa dipakai sebagai underlying operasi moneter. Bank sentral menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi valas, dengan porsi spot lebih kecil dan NDF serta DNDF lebih besar, menurut FXStreet.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures menyoroti sumber ketidakpastiannya.
“Pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik terkait Selat Hormuz.”
— Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, 2 Oktober 2026 (RRI)
Ia juga memperingatkan dampak lanjutannya.
“…risiko inflasi cenderung meningkat…”
— Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, 2 Oktober 2026 (Sindonews)
Untuk Senin (5/10), Ibrahim memperkirakan rupiah fluktuatif cenderung melemah di rentang Rp17.880-Rp17.930, menurut Investor.id. Ini proyeksi analis, bukan jaminan.
Kronologi Singkat

| Waktu | Kejadian | Sumber |
| September 2026 | Brent naik sekitar 14% sepanjang bulan | Metro TV / Investing.com |
| Rabu, 30/9 | Kontrak Brent November berakhir di US$103,50 | Metro TV |
| Kamis, 1/10 | Brent ditutup US$102,31 (+4,4%) usai kabar kapal induk ketiga AS | idnFinancials / CNBC |
| Kamis, 1/10 | Rupiah melemah ke Rp17.966 per dolar AS | Journalarta |
| Jumat, 2/10 (dini hari) | Brent US$102,60, naik 0,28% | Suaramilenial / Reuters |
| Jumat, 2/10 (sore) | Rupiah menguat ke Rp17.882 per dolar AS | Kontan, RRI |
Apakah Harga Minyak Akan Bertahan di Atas US$100?

Belum pasti, karena sinyal pasar saling bertentangan. Analis KCM Trade Tim Waterer menyebut prospek naiknya ekspor Arab Saudi menahan kenaikan harga, menurut Suaramilenial yang mengutip Reuters. Secara mingguan, Brent masih turun 1,93%.
Di sisi lain, Vibiznews menyebut stok minyak mentah komersial global sudah rendah setelah turun selama enam bulan terakhir. Kondisi ini membuat pasar lebih sensitif pada gangguan pasokan. Vibiznews menilai selama kebuntuan diplomatik berlanjut, Brent berpotensi bertahan di sekitar US$100.
Pasar juga mengingat bahwa harga bisa berbalik cepat. Kami mencatat fenomena itu saat harga minyak dunia anjlok pada Agustus lalu.
Tiga hal patut dipantau sepekan ke depan:
- Perkembangan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
- Arah negosiasi AS-Iran menjelang November.
- Respons BI dan arus modal asing terhadap rupiah, yang sebelumnya memukul pasar saham seperti dibahas pada kejatuhan IHSG saat investor asing menjual Rp72 triliun.
Arah suku bunga global juga ikut menentukan. Konteksnya ada di ulasan divergensi suku bunga global 2026.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa harga minyak Brent hari ini?
Brent ditutup US102,31 perbarel pada Kamis (1/10/2026), menurut CNBC via Waspada.id. PadaJumat (2/10) pagi,Reuters mencatat Brent di US102,60. Harga terus bergerak, jadi cek data terbaru.
Mengapa minyak naik bisa melemahkan rupiah?
Indonesia importir minyak neto. Harga minyak naik berarti kebutuhan dolar untuk impor energi naik, dan itu menekan rupiah.
Berapa kurs rupiah terakhir?
Rupiah spot ditutup di Rp17.882 per dolar AS pada Jumat (2/10/2026), menurut Kontan.
Artikel ini ditulis oleh Redaksi di erkutterliksiz.com. Data diverifikasi per 03 Oktober 2026.





