
Ringkasan Cepat:
- Arab Saudi kehabisan rudal pencegat dan meminta bantuan pertahanan udara ke Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir
- Amerika Serikat, sekutu utama Riyadh, juga kehabisan stok pencegat setelah enam bulan berperang melawan Iran
- Arab Saudi menyatakan Mekah sebagai “garis merah” usai mengaku mencegat drone yang diduga menyasar kota suci itu
Kairo/Riyadh, 18 September 2026 — Arab Saudi kehabisan rudal pencegat menghadapi gempuran drone dan rudal Houthi dari Yaman, sehingga meminta bantuan pertahanan udara ke Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir, menurut dua pejabat regional yang dikutip Associated Press pada 16 September 2026.
Mengapa Ini Penting?

Ketegangan ini berakar dari Perang Iran 2026, yang pecah setelah AS dan Israel menyerang fasilitas nuklir dan program rudal Iran pada 28 Februari 2026. Pertahanan udara Saudi kini menjadi taruhan langsung dari konflik yang sempat dibahas dalam audit ancaman rudal Iran era Trump.
Menurut laporan AP, pasokan pencegat AS sendiri menipis akibat enam bulan konfrontasi dengan Iran — inilah yang mendorong Riyadh mencari bantuan tambahan dari sekutu lain di luar Washington.
“Ini bukan sekadar soal Houthi versus Arab Saudi, melainkan cara menjaga jalur pelayaran internasional yang lebih luas,” kata Adam Baron, peneliti di lembaga think tank New America, Washington.
Bagi Indonesia, gejolak ini relevan karena Arab Saudi adalah salah satu pemasok minyak utama dunia. Harga minyak dunia kini bertahan di atas 100 dolar AS per barel akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk.
Reaksi dan Dampak

Arab Saudi berada dalam posisi sulit karena harus melindungi pangkalan militer, instalasi pemerintah, sekaligus fasilitas minyak di seluruh negeri secara bersamaan, menurut salah satu pejabat yang diwawancarai AP. Sebuah pipa minyak penting Saudi dilaporkan ditutup selama berminggu-minggu setelah diserang milisi bersenjata dukungan Iran di Irak.
Houthi juga menyasar jalur pelayaran di Laut Merah dan telah menguasai sejumlah pulau di Selat Bab el-Mandeb, sementara Iran masih mengincar kapal-kapal di Selat Hormuz.
Dukungan sekutu sejauh ini baru sebatas diplomatik. Juru bicara Perdana Menteri Inggris, Tom Wells, hanya menegaskan adanya “kemitraan pertahanan erat” dengan Riyadh tanpa memastikan pengiriman bantuan militer. Turki dan Pakistan — mitra Arab Saudi dalam pakta pertahanan baru — mengaku belum menerima permintaan resmi apa pun dari Riyadh, meski kedua negara sudah menyatakan solidaritas.
“Kami berdiri teguh, bahu membahu,” kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, menegaskan dukungannya kepada Arab Saudi.
Kesiapan pertahanan udara Pakistan sendiri sempat menjadi sorotan lewat kerja sama sistem pertahanan dari China beberapa bulan sebelumnya. Sementara itu, Amerika Serikat memilih tidak terjun langsung ke konflik. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Washington tetap “berhubungan konstan” dengan Riyadh dan berdialog langsung dengan pihak Houthi.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| 28 Feb 2026 | AS dan Israel menyerang fasilitas nuklir dan rudal Iran, memicu Perang Iran 2026 | Associated Press |
| Awal Mar 2026 | Iran membalas dengan serangan rudal ke berbagai lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang Ras Tanura | Laporan media internasional |
| 16 Sep 2026 | Arab Saudi minta bantuan pertahanan udara ke Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir | Associated Press |
| 17 Sep 2026 | Arab Saudi nyatakan Mekah “garis merah” usai klaim mencegat drone Houthi | Associated Press/TIME |
| 18 Sep 2026 | AS pertahankan travel advisory Level 3 untuk Arab Saudi soal ancaman rudal Iran | Khaama Press/Kemlu AS |
Apa Selanjutnya?

Jalur diplomasi masih diutamakan. Oman dan Mesir memimpin upaya de-eskalasi di Yaman, dan akhir pekan lalu Oman menjadi tuan rumah pertemuan tertutup antara perwakilan AS dan Houthi. Turki dilaporkan tengah berunding dengan Iran dan Uni Emirat Arab untuk meredakan ketegangan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tengah berada di China, dan Presiden Xi Jinping menawarkan bantuan Beijing untuk mengakhiri perang saat KTT BRICS di New Delhi akhir pekan lalu. Arus minyak lewat Selat Hormuz mulai pulih sebagian lewat rute dekat Oman dengan pengawalan pasukan AS, meski volumenya masih kurang dari separuh level sebelum perang.
Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Erkutterliksiz berdasarkan laporan Associated Press, TIME, dan Khaama Press per 18 September 2026.







