
erkutterliksiz – Anda membuka aplikasi investasi pada pagi hari. Selama berbulan-bulan, grafik dana investasi yang Anda miliki terlihat indah. Nilainya terus naik. Bahkan ketika sebagian saham lain bergerak biasa-biasa saja, portofolio Anda seperti mempunyai mesin sendiri.
Teman mulai bertanya.
“Kok return-nya tinggi banget?”
Anda mungkin menjawab sederhana.
“Fund manager-nya jago.”
Semakin tinggi kinerjanya, semakin banyak investor masuk. Uang baru berdatangan. Dana kelolaan membesar. Saham-saham yang berada di dalam portofolio terus naik.
Sampai suatu hari Anda menekan tombol jual.
Dan uangnya tidak datang.
Itulah titik ketika cerita pasar modal Turki yang awalnya terlihat seperti kisah sukses berubah menjadi salah satu skandal keuangan terbesar negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Pada September 2026, krisis likuiditas menyapu sejumlah investment fund di Turki. Otoritas kemudian memerintahkan likuidasi lebih dari 100 dana investasi dengan nilai sekitar US$18 miliar yang dimiliki lebih dari 450 ribu investor.
Pada saat bersamaan, penyelidikan dugaan manipulasi saham berkembang cepat.
Orang-orang ditangkap.
Aset dibekukan.
Eksekutif perusahaan investasi masuk tahanan.
Sermaye Piyasası Kurulu atau SPK, regulator pasar modal Turki, mengajukan laporan pidana terhadap puluhan orang.
Bahkan pada 4 Oktober 2026, jaksa meminta izin untuk menyelidiki mantan Ketua SPK İbrahim Ömer Gönül atas dugaan penyalahgunaan jabatan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Jawabannya membawa kita ke sebuah mekanisme yang terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi sangat berbahaya: dana investasi membeli saham dengan likuiditas rendah dalam jumlah besar, harga saham melonjak, nilai portofolio ikut terangkat, kinerja dana terlihat fantastis, kemudian uang investor baru berdatangan.
Selama uang terus masuk, pesta berlangsung.
Masalahnya dimulai ketika semua orang ingin keluar melalui pintu yang sama.
Skandal Manipulasi Pasar Saham Turki Meledak pada September 2026
Akar persoalannya sebenarnya sudah terlihat sebelum September.
SPK mengakui bahwa sejak kuartal terakhir 2025 regulator telah melihat fenomena mencurigakan.
Menurut SPK, sejumlah dana yang dikelola perusahaan manajemen portofolio tertentu memiliki posisi pada saham dengan free float rendah dan memicu pergerakan harga yang sulit dijelaskan oleh kondisi ekonomi maupun fundamental perusahaan.
Kalimat regulator tersebut penting.
Bayangkan sebuah saham yang jumlahnya beredar di pasar tidak terlalu banyak.
Kemudian sebuah investment fund datang dengan uang sangat besar.
Fund tersebut membeli saham secara agresif.
Karena jumlah saham yang tersedia terbatas, permintaan besar bisa mendorong harga naik dengan cepat.
Ketika harga saham naik, nilai aset yang dimiliki fund ikut naik.
Akibatnya, Net Asset Value atau nilai aktiva bersih fund juga terlihat meningkat.
Investor melihat return fantastis.
Uang baru masuk.
Fund mempunyai uang tambahan untuk membeli saham lagi.
Harga kembali terdorong.
Dan siklus tersebut dapat berulang.
Masalahnya, kenaikan harga seperti itu belum tentu mencerminkan kenaikan fundamental perusahaan.
SPK bahkan menyatakan regulasi baru diperlukan untuk mencegah nilai beberapa dana dihitung secara “fiktif” dan membatasi peluang manipulasi melalui investment fund.
Semua Terlihat Baik Selama Investor Terus Masuk
Di sinilah bagian paling menarik sekaligus berbahaya.
Ketika sebuah fund memiliki saham likuid seperti perusahaan berkapitalisasi besar, menjual aset dalam jumlah tertentu biasanya relatif mudah.
Tetapi situasinya berbeda apabila portofolio terkonsentrasi pada saham dengan free float kecil.
Di layar, nilainya mungkin terlihat sangat tinggi.
Namun nilai di layar dan uang tunai adalah dua hal berbeda.
Misalnya sebuah fund memiliki saham senilai 10 miliar lira berdasarkan harga terakhir di bursa.
Secara akuntansi, fund tersebut terlihat mempunyai aset Rp—atau dalam kasus ini lira—yang sangat besar.
Tetapi bagaimana jika fund mencoba menjual seluruh saham tersebut?
Belum tentu ada pembeli.
Kalaupun ada, harga mungkin jatuh tajam ketika penjualan dalam jumlah besar masuk ke pasar.
Artinya, nilai 10 miliar lira tadi belum tentu benar-benar dapat dicairkan menjadi 10 miliar lira.
Selama investor tidak menarik uang secara massal, masalah itu bisa tersembunyi.
Begitu redemption datang bersamaan, semuanya berubah.
Pusula Portföy Menjadi Salah Satu Titik Pecahnya Krisis
Krisis mulai terlihat jelas ketika Pusula Portföy mengalami gelombang penarikan dana.
Menurut laporan Euronews Turki, sekitar 132,7 miliar lira keluar dari fund Pusula setelah 28 Agustus 2026.
Pada 15 September, perusahaan kemudian mengumumkan bahwa beberapa fund mengalami keterlambatan atau gagal memenuhi pembayaran redemption kepada investor.
Dalam bahasa sederhana, investor berkata:
“Saya mau jual unit fund saya. Tolong kembalikan uang saya.”
Tetapi fund tidak mempunyai likuiditas yang cukup untuk membayarnya tepat waktu.
Setelah itu, persoalan serupa muncul pada dua fund Tera.
Dan kepanikan mulai menyebar.
Investor lain melihat apa yang terjadi.
Mereka pun mulai berpikir:
“Kalau saya tidak keluar sekarang, bagaimana kalau besok uang saya juga tidak bisa dicairkan?”
Ketika banyak investor mempunyai pikiran yang sama pada waktu bersamaan, terjadilah apa yang mirip dengan bank run, tetapi terjadi pada investment fund.
Saham yang Tadinya Naik Bisa Menjadi Jebakan
Masalah berikutnya adalah fund harus mencari uang tunai untuk membayar investor.
Bagaimana caranya?
Salah satunya menjual aset.
Tetapi ketika banyak fund mencoba menjual saham pada waktu bersamaan, harga jatuh.
Ketika harga jatuh, nilai portofolio fund ikut jatuh.
Investor semakin panik.
Mereka semakin ingin menarik uang.
Fund kemudian membutuhkan lebih banyak uang tunai.
Aset harus dijual lagi.
Harga kembali turun.
Siklus yang sebelumnya mendorong harga naik kini bekerja secara terbalik.
Dan inilah salah satu alasan mengapa skandal manipulasi pasar saham Turki akhirnya berubah menjadi krisis yang lebih luas di industri investment fund.
Tiga Saham Masuk Sorotan Awal Regulator
Penyelidikan SPK kemudian menyoroti transaksi pada sejumlah saham.
Tiga nama yang mendapat perhatian besar adalah Katılımevim Tasarruf Finansman AŞ, Gündoğdu Gıda dan Destek Finans Faktoring.
SPK mengajukan laporan pidana terhadap puluhan orang terkait dugaan manipulasi transaksi pada saham-saham tersebut.
Angkanya cukup mencolok.
Menurut Euronews, fund Pusula pernah menguasai saham Katılımevim setara sekitar 25,59% modal perusahaan.
Pada Gündoğdu Gıda, fund yang dikelola Pusula tercatat memegang sekitar 38,67% modal perusahaan pada Agustus 2026.
Sementara sejumlah fund Tera mempunyai posisi di Destek Finans yang setara sekitar 10,20% modal perusahaan. Jika hanya menghitung saham yang benar-benar beredar di pasar, posisi Tera disebut mencapai sekitar 39,41% free float Destek Finans.
Bayangkan satu kelompok fund menguasai bagian sangat besar dari saham yang benar-benar bisa diperdagangkan.
Ketika mereka membeli, harga bisa terdorong.
Tetapi ketika mereka perlu menjual?
Mencari pembeli untuk posisi sebesar itu menjadi jauh lebih sulit.
Apakah Ini Benar-Benar Skema Ponzi?
Istilah “Ponzi-like” banyak muncul dalam pemberitaan internasional mengenai skandal tersebut.
Namun kita perlu berhati-hati.
Tidak berarti seluruh fund yang dilikuidasi telah terbukti secara hukum menjalankan skema Ponzi klasik.
Penyidikan masih berjalan dan dugaan pidana terhadap individu maupun perusahaan harus dibuktikan melalui proses hukum.
Namun mekanisme yang disoroti analis memang mempunyai karakter yang dapat terlihat menyerupai Ponzi.
Fund membeli saham tertentu dalam jumlah besar.
Harga saham naik.
Nilai fund naik.
Return tinggi menarik investor baru.
Dana investor baru memungkinkan pembelian saham lebih lanjut.
Harga kembali naik.
Kemudian siklus itu terus berputar.
Financial Times melaporkan bahwa inti masalah menurut analis adalah kelompok fund yang selama sekitar dua tahun membangun posisi terkonsentrasi pada perusahaan-perusahaan terkait, sehingga kenaikan harga saham ikut mempercantik nilai aktiva bersih fund.
Sistem seperti itu mempunyai kelemahan mendasar.
Ia membutuhkan likuiditas.
Begitu arus uang berbalik dan investor ramai-ramai meminta uangnya kembali, harga pasar sebenarnya mulai diuji.
US$18 Miliar dan Lebih dari 450 Ribu Investor
Skala masalah kemudian menjadi terlihat.
Data regulator yang dikutip Reuters menunjukkan 455.758 investor individu mempunyai kepemilikan pada lebih dari 100 fund yang terkena proses likuidasi.
Nilainya sekitar US$18 miliar.
Financial Times melaporkan sebanyak 131 investment fund masuk dalam proses tersebut.
Jadi ini bukan cerita mengenai beberapa trader yang kehilangan uang karena salah memilih saham.
Ratusan ribu orang terdampak.
Dan uang yang terlibat bernilai puluhan miliar dolar.
Pemerintah akhirnya harus bergerak cepat.
Regulator Turki Menutup Pintu Keluar Normal
Pada 17 September 2026, SPK mengambil langkah drastis.
Fund yang masuk proses likuidasi ditutup dari transaksi jual-beli melalui Türkiye Elektronik Fon Alım Satım Platformu atau TEFAS.
Transaksi di luar TEFAS pada fund terkait juga dihentikan.
Artinya, mekanisme normal ketika investor menekan tombol “jual” dan menerima uang tidak lagi berlaku.
Aset harus dibereskan melalui proses likuidasi.
Dua bank besar kemudian dilibatkan dalam proses penjualan aset dan pengembalian dana kepada investor, yaitu İşbank dan Ziraat Bank.
Tujuannya jelas.
Kalau seluruh saham langsung dibuang ke pasar, harga bisa runtuh.
Jadi aset perlu dijual secara lebih terkendali.
Namun bagi investor, konsekuensinya juga jelas.
Mereka harus menunggu.
Dan belum tentu nilai akhir yang diterima sama dengan angka yang sebelumnya terlihat pada aplikasi investasi.
Investor Akhirnya Mendapat Pembayaran Sementara
Pada 1 Oktober 2026, SPK mengumumkan mekanisme pembayaran sementara kepada pemegang unit fund yang sedang dilikuidasi.
Investor yang proses rekonsiliasinya sudah selesai dapat menerima pembayaran awal.
Batas maksimalnya 1 juta lira per investor untuk setiap fund.
Jumlah tersebut nantinya diperhitungkan sebagai bagian dari pembayaran akhir setelah proses likuidasi selesai.
Langkah ini memperlihatkan betapa serius situasinya.
Regulator tidak lagi hanya menyelidiki apakah terjadi manipulasi saham.
Mereka juga harus memikirkan bagaimana ratusan ribu investor mendapatkan kembali uangnya.
Penangkapan Mulai Terjadi
Sementara regulator mengurus dana investor, jaksa dan polisi bergerak di jalur berbeda.
Penyelidikan pidana meluas.
Pada 21 September, otoritas Turki menahan 15 orang dalam penyelidikan transaksi saham Katılımevim. Proses hukum saat itu mencakup 25 tersangka.
SPK sebelumnya mengajukan laporan pidana terhadap 38 orang terkait dugaan manipulasi saham Katılımevim dan dua perusahaan lainnya, serta menjatuhkan larangan transaksi selama dua tahun.
Namun itu baru permulaan.
Bos-Bos Perusahaan Investasi Ikut Ditahan
Penyelidikan kemudian mencapai jajaran eksekutif.
Pada 1 Oktober, CEO Tera Yatırım Emir Münir Sarpyener dan Ketua Tera Portföy Erdin Özel termasuk di antara lima tersangka yang ditahan sambil menunggu proses hukum lebih lanjut.
Dua hari kemudian, gelombang penahanan berikutnya terjadi.
Pada 3 Oktober, pengadilan memerintahkan penahanan 20 tersangka tambahan dalam rangkaian penyelidikan transaksi pasar modal. Anadolu Agency melaporkan total orang yang ditahan dalam penyelidikan terkait telah mencapai 65 orang.
Angka itu menunjukkan kasus tersebut sudah jauh melampaui penyelidikan terhadap satu saham.
Otoritas sedang mencoba membongkar jaringan transaksi dan aliran uang yang lebih luas.
Jaksa Bahkan Memeriksa Transfer Uang dan Kripto
Penyelidikan tidak berhenti pada transaksi saham.
Jaksa meminta MASAK, badan intelijen keuangan Turki, mengumpulkan data keuangan para eksekutif perusahaan yang menjadi perhatian.
Permintaan tersebut mencakup identitas manajemen, transfer uang ke luar negeri sejak 2024, transfer aset kripto, serta arus masuk dan keluar dana.
Nama-nama perusahaan yang masuk lingkup pemeriksaan antara lain Pusula Finans Holding, Tera Yatırım Menkul Değerler, Hedef Holding dan Bulls Yatırım Menkul Değerler beserta perusahaan terkait.
Jadi penyidik tampaknya tidak hanya bertanya:
“Siapa membeli saham apa?”
Mereka juga bertanya:
“Uangnya bergerak ke mana?”
SPK Mengajukan Laporan Pidana terhadap 37 Orang dalam Kasus Tera
Pada 28 September, SPK mengambil langkah besar lainnya.
Setelah melakukan pemeriksaan terhadap transaksi saham Tera Finansal Yatırımlar Holding, regulator memutuskan mengajukan laporan pidana terhadap 37 orang.
SPK juga menjatuhkan larangan transaksi selama dua tahun terhadap orang-orang yang dinilai bertanggung jawab dalam transaksi terkait serta terhadap Tera Yatırım Menkul Değerler dan Tera Portföy Yönetimi.
Sejumlah lisensi dan otorisasi profesional juga dicabut.
Perlu kembali ditekankan bahwa laporan pidana dan penahanan bukan putusan bersalah.
Proses pengadilan tetap diperlukan untuk menentukan pertanggungjawaban pidana masing-masing pihak.
Namun dari sisi pasar, dampaknya sudah terjadi.
Mantan Ketua Regulator Kini Ikut Disorot
Lalu pada 4 Oktober 2026, cerita memasuki babak yang lebih sensitif.
Kejaksaan Istanbul meminta Kementerian Keuangan dan Perbendaharaan Turki memberikan izin penyelidikan terhadap mantan Ketua SPK İbrahim Ömer Gönül atas dugaan penyalahgunaan jabatan.
Menurut dokumen kejaksaan yang diberitakan TRT Haber, terdapat empat penyelidikan terpisah mengenai dugaan tindakan manipulatif di saham Borsa Istanbul melalui perusahaan pengelola portofolio dan investment fund.
Perkembangan ini penting.
Sebab pertanyaan yang mulai muncul bukan hanya mengenai pelaku pasar.
Tetapi juga mengenai pengawasan.
Jika regulator sudah melihat pergerakan mencurigakan sejak akhir 2025, mengapa krisis baru meledak besar pada September 2026?
Apakah intervensinya cukup cepat?
Apakah aturan sebelumnya terlalu longgar?
Apakah ada kelalaian?
Permintaan izin penyelidikan belum berarti mantan Ketua SPK bersalah.
Tetapi hal tersebut memperluas cerita dari skandal pelaku pasar menjadi persoalan mengenai kualitas pengawasan pasar modal.
Erdoğan Akhirnya Turun Bicara
Ketika ratusan ribu investor terdampak dan pasar mulai terguncang, persoalannya tidak mungkin lagi hanya ditangani regulator.
Presiden Recep Tayyip Erdoğan akhirnya ikut memberikan pernyataan.
Ia mengatakan mereka yang terbukti terlibat dalam skema manipulatif untuk memperoleh keuntungan tidak adil akan dimintai pertanggungjawaban.
Pemerintah juga menyatakan sedang menyiapkan langkah untuk mencegah persoalan serupa terulang.
Pemerintah Turki pada saat bersamaan mencoba meyakinkan masyarakat bahwa masalah tersebut tidak berkembang menjadi krisis sistemik.
Menteri Keuangan Mehmet Şimşek sebelumnya mengatakan area bermasalah telah “dikarantina” dan fund terdampak hanya mencakup sekitar 10% sektor investment fund.
Tetapi pasar tetap bereaksi.
BIST 100 Ikut Terpukul
Ketika skandal membesar, Borsa Istanbul tidak mungkin sepenuhnya kebal.
Financial Times mencatat indeks BIST 100 sempat turun sekitar 8% dalam satu minggu ketika krisis memburuk pada pertengahan September.
Ketika tekanan berlanjut, penurunannya mendekati 11% dibandingkan periode sebelum gejolak meningkat.
Bank sentral Turki bahkan memberikan dukungan likuiditas untuk membantu mencegah penjualan paksa yang dapat memperparah kejatuhan pasar.
Ini menunjukkan satu hal.
Manipulasi pada saham yang awalnya mungkin dianggap “kecil” dapat berubah menjadi risiko pasar yang lebih luas ketika saham tersebut dimiliki oleh investment fund dalam jumlah besar.
Fund tertekan.
Investor menarik uang.
Fund menjual saham.
Harga jatuh.
Fund lain terkena dampak.
Investor lain panik.
Dan efek domino mulai terbentuk.
Kenapa Skandal Turki Sangat Berbahaya?
Masalah paling besar bukan semata-mata uang US$18 miliar.
Pasar modal dibangun di atas sesuatu yang tidak terlihat.
Kepercayaan.
Ketika membeli unit investment fund, investor mempercayakan uangnya kepada manajer investasi.
Ia percaya nilai aktiva bersih yang dilihatnya masuk akal.
Ia percaya aset di dalam portofolio mempunyai harga pasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia percaya ketika ingin menjual unit, ada mekanisme redemption yang bekerja.
Dan ia percaya regulator mengawasi permainan.
Begitu salah satu kepercayaan itu runtuh, investor mulai bertanya.
“Apakah angka yang saya lihat benar?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada penurunan harga saham biasa.
Pelajaran Penting bagi Investor Indonesia
Kasus Turki juga menarik dilihat dari Indonesia.
Bukan berarti kondisi pasar modal Indonesia sama dengan Turki.
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan skandal yang sama sedang terjadi di Indonesia hanya karena terdapat saham berkapitalisasi kecil yang harganya naik tajam.
Tetapi mekanismenya memberikan pelajaran universal.
Return fantastis tidak selalu berarti fund manager luar biasa.
Investor juga perlu melihat apa yang sebenarnya dimiliki sebuah fund.
Apakah asetnya likuid?
Apakah kepemilikannya terkonsentrasi pada beberapa saham?
Berapa besar free float saham tersebut?
Apakah fund memegang bagian sangat besar dari saham yang beredar?
Dan pertanyaan yang sering dilupakan:
Kalau semua investor ingin keluar bersamaan, apakah aset itu benar-benar bisa dijual?
Karena likuiditas baru terlihat nilainya ketika semua orang membutuhkan uang tunai.
Ketika Mesin Uang Berhenti Berputar
Skandal manipulasi pasar saham Turki akhirnya memberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana sebuah lingkaran yang terlihat menguntungkan bisa berubah menjadi jebakan.
Harga saham naik.
Nilai fund naik.
Return terlihat fantastis.
Investor baru masuk.
Fund mendapatkan uang.
Saham kembali dibeli.
Harga kembali naik.
Di atas kertas, semua orang terlihat semakin kaya.
Tetapi harga yang terus naik membutuhkan pembeli berikutnya.
Ketika arus uang berhenti dan investor justru meminta uang kembali, mekanisme tersebut berputar ke arah sebaliknya.
Kini Turki harus membereskan akibatnya.
Lebih dari 450 ribu investor terdampak proses likuidasi fund bernilai sekitar US$18 miliar. Puluhan orang telah ditahan dalam rangkaian penyelidikan. SPK mengajukan laporan pidana terhadap sejumlah pelaku pasar. Dan bahkan mantan ketua regulator kini menghadapi permintaan izin penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan jabatan.
Proses hukumnya masih jauh dari selesai.
Karena itu, siapa yang akhirnya dinyatakan bersalah dan seberapa besar kerugian aktual investor belum dapat dipastikan sekarang.
Namun satu hal sudah terlihat.
Pasar modal bisa terlihat sangat kuat ketika semua orang membeli.
Ujian sebenarnya datang ketika orang-orang mulai menjual.
Dan dalam kasus Turki, ketika ratusan ribu investor mencoba menemukan pintu keluar, mereka baru menyadari pintunya jauh lebih kecil daripada jumlah orang yang ingin melewatinya.
Referensi
Sermaye Piyasası Kurulu (SPK), “Yatırım Fonlarına İlişkin Rehber Düzenleme Süreci Açıklaması”, 18 September 2026.
Baca sumber resmi SPK
Sermaye Piyasası Kurulu (SPK), “Tasfiye Süresine İlişkin Basın Duyurusu”, 28 September 2026.
Baca sumber resmi SPK
Sermaye Piyasası Kurulu (SPK), “Tasfiyedeki Fonlara İlişkin Ara Ödeme Duyurusu”, 1 Oktober 2026.
Baca sumber resmi SPK
Sermaye Piyasası Kurulu (SPK), “Sermaye Piyasasında Piyasa Dolandırıcılığı (Manipülasyon)”, penjelasan resmi mengenai manipulasi pasar berdasarkan Pasal 107 Undang-Undang Pasar Modal Turki.
Baca penjelasan resmi SPK
Anadolu Agency, “Sermaye piyasası işlemleri soruşturmalarında 20 şüpheli tutuklandı”, 3 Oktober 2026.
Baca sumber Anadolu Agency
Anadolu Agency, “SPK’den Tera Finansal Yatırımlar işlemleriyle ilgili 37 kişi hakkında suç duyurusu”, 28 September 2026.
Baca sumber Anadolu Agency
Reuters, “Turkey says nearly half a million investors affected by funds liquidation”, 23 September 2026.
Baca laporan Reuters
Financial Times, “Turkey moves to liquidate funds at centre of ‘Ponzi-like scheme’”, 18 September 2026.
Baca laporan Financial Times
TRT Haber, “Eski SPK Başkanı Gönül için soruşturma izni istendi”, 4 Oktober 2026.
Baca sumber TRT Haber
Euronews Türkiye, “Türk piyasalarında fon skandalı: Tam olarak ne oldu ve şirketler neyle suçlanıyor?”, 17 September 2026.
Baca laporan Euronews Türkiye




