World Economic Forum (WEF) merilis Global Risks Report 2026 pada Januari 2026, menempatkan Indonesia di antara 27 negara yang menghadapi risiko tinggi pengangguran dan kurangnya peluang ekonomi. Laporan yang didasarkan pada survei lebih dari 1.300 ahli global ini mengidentifikasi tantangan struktural serius yang akan dihadapi Indonesia hingga 2028.
Menurut data WEF 2026, kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran menjadi risiko teratas di 27 negara dan masuk lima besar di 72 negara. Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang diprediksi mengalami stagnasi mobilitas sosial, ketimpangan kesempatan, dan tekanan pada layanan publik. Bonus demografi yang selama ini dianggap sebagai potensi besar Indonesia justru berisiko tidak termanfaatkan optimal jika penciptaan lapangan kerja berkualitas tidak meningkat.
Apa Itu WEF Ungkap 5 Risiko Utama Indonesia 2026-2028?

Menurut Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum, WEF Ungkap 5 Risiko Utama Indonesia 2026-2028 adalah identifikasi tantangan struktural kritis yang akan dihadapi Indonesia dalam periode dua tahun ke depan. Laporan ini menganalisis risiko global melalui tiga kerangka waktu: 2026 (jangka pendek), 2028 (jangka menengah), dan 2036 (jangka panjang). Indonesia secara khusus disorot dalam kategori risiko sosial dan ekonomi, terutama terkait penciptaan lapangan kerja dan peluang ekonomi yang tidak merata. Risiko-risiko ini tidak hanya berdampak pada angka statistik, tetapi juga mencerminkan tantangan nyata dalam pembangunan ekonomi inklusif dan pemanfaatan potensi demografi Indonesia yang masih muda.
Laporan WEF 2026 ini didasarkan pada Global Risks Perception Survey (GRPS) yang melibatkan responden dari berbagai sektor: pemerintahan, bisnis, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan akademisi. Metodologi survei mencakup evaluasi tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya 33 risiko global yang berbeda, dengan analisis mendalam tentang bagaimana risiko-risiko ini saling terkait dan memengaruhi satu sama lain.
5 Risiko Utama Indonesia Menurut WEF 2026

1. Kurangnya Peluang Ekonomi dan Pengangguran Tinggi
Risiko pengangguran dan minimnya peluang ekonomi menempati posisi teratas untuk Indonesia dalam periode 2026-2028. Menurut data World Bank Indonesia Economic Prospects Desember 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% pada sembilan bulan pertama 2025, namun pertumbuhan ini sebagian besar menciptakan pekerjaan di sektor bernilai tambah rendah dengan upah yang tidak mencapai standar kelas menengah.
Data World Bank menunjukkan bahwa antara 2018 dan 2024, upah riil di Indonesia menurun 1,1% per tahun. Ini berarti meskipun lapangan kerja tercipta, kualitas pekerjaan tersebut tidak meningkatkan kesejahteraan pekerja secara signifikan. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga kebijakan menjadi 4,75%, namun pertumbuhan kredit tetap tidak merata karena sikap hati-hati bank dalam mengambil risiko dan permintaan yang lemah di beberapa sektor swasta.
2. Ketimpangan Ekonomi yang Meluas
Ketimpangan terpilih sebagai risiko paling saling terkait untuk tahun kedua berturut-turut dalam survei WEF 2026. Ketimpangan berada di peringkat 7 dalam outlook dua tahun dan 10 tahun. Risiko ini memperkuat risiko-risiko lain karena mobilitas sosial yang stagnan.
Transformasi teknologi, pergeseran geoekonomi, dan ruang fiskal yang lebih ketat secara bersamaan melemahkan jalur mobilitas sosial dan mengikis kepercayaan publik. Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata menciptakan ekonomi berbentuk K, di mana beberapa sektor berkembang pesat sementara yang lain kesulitan. Kondisi ini memperburuk ekspektasi tentang kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran.
3. Infrastruktur Publik dan Perlindungan Sosial yang Tidak Memadai
Infrastruktur publik yang tidak memadai dan perlindungan sosial yang lemah menempati peringkat 20 dalam risiko global untuk periode 2026-2028. Untuk Indonesia, risiko ini sangat relevan karena tekanan terhadap layanan publik seperti pendidikan, infrastruktur, dan perlindungan sosial semakin meningkat.
Kebijakan fiskal 2026 menempatkan penekanan lebih besar pada program sosial unggulan, termasuk makan bergizi gratis dan koperasi desa. Namun langkah-langkah ini bersamaan dengan ruang fiskal yang lebih ketat, karena kinerja pendapatan tetap terpapar pada harga komoditas yang lebih lemah dan kenaikan biaya pembayaran utang.
4. Risiko Ekonomi Global: Konfrontasi Geoekonomi dan Perlambatan
WEF 2026 menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai risiko nomor satu untuk tahun 2026 dan 2028, dipilih oleh 18% responden. Konflik berbasis negara mengikuti di posisi kedua untuk 2026. Konfrontasi geoekonomi mengacu pada penggunaan alat ekonomi seperti sanksi, tarif, pembatasan modal, dan senjata rantai pasokan sebagai instrumen pengaruh geopolitik.
Indonesia, sebagai ekonomi terbuka yang bergantung pada perdagangan internasional, sangat rentan terhadap konfrontasi geoekonomi ini. Penurunan ekonomi global berada di peringkat 6 untuk 2026 dan naik delapan posisi dari tahun lalu. IMF memproyeksikan inflasi global akan turun menjadi 4,2% pada 2025 dan 3,7% pada 2026, namun dengan inflasi di atas target di Amerika Serikat dan inflasi yang lemah di sebagian besar negara lain.
5. Dampak Teknologi AI terhadap Ketenagakerjaan
Hasil merugikan dari teknologi AI memasuki 10 besar risiko global untuk pertama kalinya di peringkat 8, dipilih oleh 4% responden untuk 2026. Misinformasi dan disinformasi berada di peringkat 5 untuk 2026 dan naik ke peringkat 2 untuk outlook 2028.
Menurut analisis Randstad terhadap 126 juta lowongan kerja di seluruh dunia, posting pekerjaan tingkat pemula telah turun 29% sejak Januari 2024. Yang dulunya perlambatan sementara kini terlihat semakin struktural. Di Indonesia, transformasi digital dan adopsi AI dapat memperburuk tantangan penciptaan lapangan kerja, terutama untuk generasi muda yang memasuki pasar kerja.
Implikasi untuk Ekonomi Indonesia 2026-2028

Tantangan Bonus Demografi
Indonesia memiliki populasi muda yang besar yang seharusnya menjadi dividend demografis. Namun tanpa penciptaan lapangan kerja berkualitas yang cukup, bonus ini berisiko menjadi beban demografis. Data menunjukkan bahwa ekonomi menciptakan pekerjaan untuk sebagian besar pendatang angkatan kerja, tetapi sebagian besar di sektor bernilai tambah rendah.
Kualitas penciptaan lapangan kerja telah muncul sebagai kendala sentral. Sementara stabilitas makroekonomi tetap menjadi kekuatan inti, pertumbuhan upah yang lemah dan polarisasi pasar tenaga kerja membatasi sejauh mana pertumbuhan yang stabil diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang lebih luas.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Sebagian besar proyeksi dasar berkisar di sekitar 5% untuk 2026. Bank Indonesia telah mengindikasikan bahwa pertumbuhan dapat menguat sedikit dibandingkan dengan 2025, dengan inflasi diperkirakan tetap dalam kisaran target 2,5%. Indonesian Employers Association (Apindo) memproyeksikan pertumbuhan 5,0 hingga 5,4%, mengutip permintaan domestik yang berkelanjutan sambil memperingatkan bahwa momentum dapat melunak di luar periode konsumsi musiman.
IMF dalam Article IV Consultation untuk Indonesia Januari 2026 menyatakan bahwa ekonomi Indonesia telah menunjukkan ketahanan di tengah guncangan yang merugikan. Pertumbuhan diperkirakan tetap stabil di 5,0% pada 2025 dan 5,1% pada 2026, meskipun dalam lingkungan eksternal yang menantang, mencerminkan dukungan dari kebijakan fiskal dan moneter.
Ketergantungan pada Investasi Domestik
Investasi terus memberikan dukungan, didorong sebagian besar oleh pembentukan modal domestik. Jalan tol, pelabuhan, dan proyek transportasi massal meningkatkan konektivitas dan membuka peluang bagi rantai pasokan lokal. Investasi asing di kendaraan listrik, energi terbarukan, dan mineral hilir semakin mendukung pertumbuhan jangka menengah.
Namun pengaturan kebijakan pada 2026 mencerminkan penyeimbangan kembali daripada dorongan ekspansif. Kebijakan fiskal menempatkan penekanan lebih besar pada program sosial unggulan, sementara kebijakan moneter telah beralih ke akomodasi dengan ruang untuk pelonggaran lebih lanjut jika kondisi memungkinkan.
Strategi Menghadapi Risiko WEF 2026-2028
1. Reformasi Struktural untuk Produktivitas
World Bank menekankan bahwa reformasi struktural dapat membuka produktivitas dan mendorong penciptaan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji lebih tinggi. Meningkatkan keterampilan, mendorong kompetisi, dan memperkuat lingkungan bisnis melalui digitalisasi akan membuka lebih banyak peluang bagi Indonesia untuk bergerak menuju pekerjaan bernilai tinggi.
Transformasi digital menawarkan Indonesia mesin yang kuat untuk pertumbuhan masa depan. Meningkatkan jangkauan dan kualitas infrastruktur digital, didukung oleh lingkungan regulasi yang dapat diprediksi, akan menjadi kunci untuk membuka manfaat ekonomi digital.
2. Penguatan Infrastruktur Digital
Menurut World Bank, ekonomi digital Indonesia tetap yang terbesar di ASEAN pada 2025, tetapi tantangan untuk mewujudkan potensi penuhnya tetap ada. Akses ke internet telah berkembang pesat, tetapi kualitas dan penggunaannya tetap tidak merata: kecepatan internet rata-rata tertinggal dari rekan-rekan regional, dan banyak pengguna di daerah pedesaan, sekolah, dan klinik kesehatan kekurangan koneksi berkecepatan tinggi.
Memperkuat infrastruktur digital terutama dengan memobilisasi investasi swasta dan bersama dengan memajukan keterampilan digital dan menjaga kepercayaan digital adalah kunci untuk memperluas akses ke peluang, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan mendorong pertumbuhan inklusif untuk manfaat semua orang Indonesia.
3. Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Keterampilan
Untuk mengatasi risiko pengangguran dan kurangnya peluang ekonomi, Indonesia harus fokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan program pelatihan keterampilan. Survei eksekutif C-suite global menemukan bahwa 94% pemimpin menghadapi kekurangan keterampilan kritis AI saat ini, dengan satu dari tiga melaporkan kesenjangan 40% atau lebih.
Permintaan untuk keterampilan digital, seperti AI, big data, dan literasi teknologi, meningkat jauh lebih cepat daripada pasokan global. Upaya pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan, merancang ulang peran di sekitar kolaborasi manusia-AI, dan memanfaatkan spektrum penuh dari alat SDM menjadi sangat penting.
4. Diversifikasi Ekonomi dan Pengembangan Sektor Prioritas
Investasi asing di kendaraan listrik, energi terbarukan, dan mineral hilir terus mendukung pertumbuhan jangka menengah. Sektor-sektor kunci yang diharapkan tumbuh paling banyak pada 2026 termasuk manufaktur EV dan baterai, pengolahan mineral hilir, energi terbarukan, logistik, dan pariwisata MICE.
Diversifikasi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang ditargetkan adalah kunci untuk membangun ketahanan ekonomi dan menciptakan pekerjaan berkelanjutan. Indonesia harus sepenuhnya mengimplementasikan rencana pembangunan nasional untuk periode 2025-2030.
5. Penguatan Kerja Sama Regional dan Global
Dalam konteks konfrontasi geoekonomi yang meningkat, Indonesia perlu memperkuat kerja sama regional melalui ASEAN dan kemitraan bilateral. Upaya Indonesia yang signifikan untuk mendorong perjanjian perdagangan dapat meningkatkan iklim bisnis, pertumbuhan yang dipimpin sektor swasta, dan produktivitas.
WEF menekankan bahwa kerja sama sangat diperlukan untuk manajemen risiko global. Dalam dunia dengan persaingan yang lebih besar, ini mungkin lebih sulit dicapai, tetapi hanya dengan membangun kembali kepercayaan dan bentuk baru mekanisme kolaboratif para pemimpin dapat mengarahkan kita menuju ketahanan yang lebih besar.
Baca Juga Dana Asing Cabut Rp42T, Dampaknya ke IHSG 2026
Pertanyaan Umum: WEF Ungkap 5 Risiko Utama Indonesia 2026-2028
Apa risiko terbesar yang dihadapi Indonesia menurut WEF 2026?
Menurut Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum, risiko terbesar yang dihadapi Indonesia adalah kurangnya peluang ekonomi dan tingkat pengangguran tinggi. Indonesia termasuk di antara 27 negara yang menghadapi tantangan struktural serius dalam penciptaan lapangan kerja. Data World Bank menunjukkan bahwa meskipun ekonomi tumbuh 5,0%, sebagian besar pekerjaan baru berada di sektor bernilai tambah rendah dengan upah yang menurun 1,1% per tahun antara 2018 dan 2024.
Bagaimana konfrontasi geoekonomi memengaruhi Indonesia?
Konfrontasi geoekonomi, yang menempati peringkat risiko nomor satu global untuk 2026 dan 2028 menurut WEF, memengaruhi Indonesia melalui ketidakpastian perdagangan internasional dan rantai pasokan. Sebagai ekonomi terbuka, Indonesia rentan terhadap sanksi ekonomi, pembatasan perdagangan, dan volatilitas pasar global. Risiko ini dapat menghambat ekspor, investasi asing langsung, dan akses ke teknologi penting yang dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi.
Apa dampak teknologi AI terhadap pasar kerja Indonesia?
Teknologi AI memiliki dampak ganda pada pasar kerja Indonesia. Di satu sisi, AI dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan peluang baru di sektor teknologi dan digital. Namun menurut analisis Randstad, posting pekerjaan tingkat pemula global telah turun 29% sejak Januari 2024, sebagian karena otomasi AI. Survei eksekutif global menunjukkan 94% pemimpin menghadapi kekurangan keterampilan AI kritis, menunjukkan perlunya investasi besar dalam pelatihan dan pendidikan digital di Indonesia.
Bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi di tengah risiko ini?
Untuk memanfaatkan bonus demografi, Indonesia harus fokus pada penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi di sektor bernilai tambah tinggi. World Bank merekomendasikan reformasi struktural yang meningkatkan keterampilan, mendorong kompetisi, dan memperkuat lingkungan bisnis melalui digitalisasi. Investasi dalam infrastruktur digital, pendidikan berkualitas, dan program pelatihan keterampilan sangat penting untuk mengubah populasi muda menjadi kekuatan produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.
Apa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026-2028?
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,0-5,4% untuk 2026. IMF dalam konsultasi Artikel IV Januari 2026 memperkirakan pertumbuhan stabil di 5,0% pada 2025 dan 5,1% pada 2026. Namun pertumbuhan ini lebih mencerminkan ketahanan daripada akselerasi, dengan ruang terbatas untuk peningkatan karena tekanan daya beli yang lemah, dampak investasi yang tidak merata terhadap ketenagakerjaan, dan ruang fiskal dan moneter yang terbatas. Inflasi diperkirakan tetap dalam kisaran target 2,5% Bank Indonesia.
Mengapa ketimpangan ekonomi menjadi risiko kritis menurut WEF?
Ketimpangan dipilih sebagai risiko paling saling terkait untuk tahun kedua berturut-turut dalam survei WEF 2026, berada di peringkat 7 dalam outlook dua dan sepuluh tahun. Ketimpangan memperkuat risiko-risiko lain karena menciptakan stagnasi mobilitas sosial dan mengikis kepercayaan publik. Pertumbuhan ekonomi berbentuk K, di mana beberapa sektor berkembang pesat sementara yang lain kesulitan, memperburuk ekspektasi tentang kurangnya peluang. Data menunjukkan bahwa upah riil di Indonesia menurun 1,1% per tahun antara 2018 dan 2024, menunjukkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi tidak terdistribusi secara merata.
Kesimpulan
WEF Global Risks Report 2026 memberikan peringatan penting bagi Indonesia tentang tantangan struktural yang akan dihadapi dalam periode 2026-2028. Kurangnya peluang ekonomi dan pengangguran tinggi, ketimpangan yang meluas, infrastruktur publik yang tidak memadai, risiko geoekonomi global, dan dampak teknologi AI membentuk lima risiko utama yang memerlukan respons kebijakan yang komprehensif dan terkoordinasi.
Indonesia memiliki fondasi yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5%, stabilitas makroekonomi, dan ekonomi digital terbesar di ASEAN. Namun untuk mengubah stabilitas menjadi kemakmuran inklusif, diperlukan reformasi struktural yang ambisius: peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan digital, penguatan infrastruktur digital, diversifikasi ekonomi, dan kerja sama regional yang lebih erat.
Bonus demografi Indonesia, jika dikelola dengan baik melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas dan investasi dalam pengembangan manusia, dapat menjadi kekuatan pendorong untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi pada 2045. Namun tanpa tindakan yang tepat, risiko-risiko yang diidentifikasi WEF dapat mengubah potensi ini menjadi beban yang menghambat pembangunan jangka panjang.
Referensi
- World Economic Forum, Global Risks Report 2026, Januari 2026.
- World Bank, Indonesia Economic Prospects: Digital Foundations for Growth, Desember 2025.
- International Monetary Fund, IMF Executive Board Concludes 2025 Article IV Consultation with Indonesia, Januari 2026.
- Indonesia Investments, Indonesia Investments Released January 2026 Report, Februari 2026.
- Business Indonesia, Indonesia’s Economic Outlook 2026: Resilient, but Acceleration Elusive, 2026.
