
Ringkasan Cepat:
- Harga beras acuan dunia naik 2,21% ke US$12,48/cwt pada 23 Juni 2026, level tertinggi lebih dari sepekan
- Filipina sudah memperingatkan potensi penurunan produksi gabah hingga 700 ribu ton akibat El Nino
- Bulog mengklaim Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tembus 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah
Jakarta, 24 Juni 2026 — Harga beras dunia kembali bergerak naik pada Selasa (23/6/2026) menyusul meningkatnya risiko cuaca El Nino di Asia Tenggara, sementara Bapanas mengklaim stok beras nasional yang dikelola Bulog masih aman di angka 5,2 juta ton.
Mengapa Ini Penting?

Kontrak beras acuan dunia tercatat mencapai US$12,48 per hundredweight (cwt) pada Selasa (23/6/2026), naik 2,21% dari hari sebelumnya. Pasar merespons ancaman cuaca lebih panas dan kering yang diperkirakan melanda Asia Tenggara dalam beberapa bulan mendatang. Filipina, importir beras utama Asia, sudah memperingatkan potensi penurunan produksi gabah hingga 700 ribu ton atau sekitar 3,5% dari target produksi tahunannya. Lembaga internasional sepakat soal arah tren ini: Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut peluang El Nino terbentuk antara Juni–Agustus 2026 mencapai 80%, naik menjadi sekitar 90% hingga November. Bagi Indonesia, di mana beras menopang konsumsi pokok lebih dari 270 juta penduduk, sinyal ini relevan langsung terhadap inflasi pangan dan kondisi pasar keuangan domestik yang sempat tertekan keluarnya dana asing.
“El Nino kita sudah hitung. El Nino sekarang ada Godzilla, itu kemungkinan 6 bulan. Kita sudah pengalaman, sudah dua kali El Nino, tahun 2015, 2023, 2024. Sekarang kita sudah siapkan lebih awal. Jadi insya Allah aman.”
— Andi Amran Sulaiman, Kepala Badan Pangan Nasional & Menteri Pertanian RI, 19 April 2026
Reaksi dan Dampak

Tekanan tidak hanya datang dari cuaca. Direktur Jenderal International Rice Research Institute, Yvonne Pinto, menjelaskan bahwa biaya pupuk yang melonjak akibat gangguan di Selat Hormuz turut menekan petani di seluruh Asia. Harga pupuk dilaporkan naik sekitar 33% sejak konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi bahan kimia pupuk dunia — situasi yang sebelumnya juga sempat memicu lonjakan harga BBM domestik akibat perang Iran-Yaman-Israel-AS.
“Sejumlah petani di kawasan ini sudah mengurangi pemakaian pupuk karena harganya semakin mahal.”
— Yvonne Pinto, Direktur Jenderal International Rice Research Institute, Mei 2026
Di Indonesia, data harian Kemendag SP2KP mencatat harga beras medium nasional tertimbang naik dari Rp13.809/kg pada 19 Juni menjadi Rp13.818/kg pada 22 Juni 2026. Beras premium juga bergerak naik tipis dari Rp15.473 ke Rp15.475/kg pada periode yang sama. BPS mencatat rata-rata nasional harga beras medium pekan ketiga Juni mencapai Rp14.402/kg, sementara beras premium di Rp16.230/kg. Pola kenaikan tipis namun konsisten ini menunjukkan tantangan utama bukan pada ketersediaan stok, melainkan kecepatan transmisi pasokan melimpah menjadi harga stabil di tingkat konsumen — pola serupa yang juga terlihat saat harga kedelai membebani pedagang UMKM awal tahun ini.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| 7 April 2026 | CBP Bulog capai 4,59 juta ton, klaim aman 10–11 bulan | Bapanas/Liputan6 |
| 19 April 2026 | Amran sebut El Nino 2026 sebagai “Godzilla”, proyeksi 6 bulan | Bapanas |
| 22 Mei 2026 | IRRI ungkap kenaikan harga pupuk 33% akibat Selat Hormuz | Inquirer |
| 2 Juni 2026 | WMO: peluang El Nino Juni–Agustus naik jadi 80% | WMO |
| 23 Juni 2026 | Harga beras acuan dunia naik 2,21% ke US$12,48/cwt | CNBC Indonesia |
Apa Selanjutnya?

Penopang utama optimisme pemerintah adalah stok. Bapanas mencatat CBP Bulog tembus sekitar 5,2 juta ton — diklaim tertinggi sepanjang sejarah dan naik 221,7% dibanding persiapan puncak El Nino 2023, ketika stok hanya 1,52 juta ton. Pasokan global juga relatif lega: India, eksportir beras terbesar dunia, menyimpan stok pemerintah 68,43 juta ton per 1 Juni 2026, naik 15% dari tahun lalu, sementara ekspor beras Thailand Januari–Mei 2026 justru turun 10,75%. Kombinasi ini membuat harga beras dunia saat ini masih sekitar 8% lebih rendah dibanding tahun lalu, meski tren beberapa hari terakhir mulai menanjak. Proyeksi terbaru USDA memperkirakan musim El Nino kuat berpotensi memuncak di kuartal IV 2026, dengan dampak produksi penuh baru terasa pada 2027 — jendela waktu yang sejalan dengan kebutuhan pemerintah memantau proyeksi ekonomi Indonesia 2026 secara berkelanjutan, termasuk antisipasi pasokan pangan melalui skema cadangan pangan global yang didorong BRICS.
Artikel ini ditulis oleh Redaksi erkutterliksiz, tim analisis ekonomi dan politik dunia di erkutterliksiz.com.





