
Sorotan:
- IHSG tercatat ambruk 37,42% secara year-to-date per 5 Juni 2026, menyentuh level 5.342 — terendah sejak akhir 2020
- Investor asing mencatat net sell Rp72,22 triliun di pasar reguler sepanjang 2026, data BEI
- Pengesahan revisi UU P2SK oleh DPR pada 4 Juni 2026 memicu kepanikan pasar soal independensi BI dan OJK
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan 37,42 persen secara year-to-date hingga perdagangan 5 Juni 2026, sempat menyentuh level 5.342 — posisi terendah sejak akhir 2020. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell hingga Rp72,22 triliun di pasar reguler sepanjang tahun ini. Tekanan berasal dari dua arah: pengesahan revisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) di dalam negeri, serta eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengguncang sentimen pasar global.
🔖 Simpan artikel ini untuk perkembangan terbaru seputar pasar modal Indonesia.
Konteks: Tiga Pemicu Utama yang Menghantam IHSG Bersamaan

Penurunan IHSG 37 persen bukan akibat satu faktor tunggal. Ada tiga tekanan besar yang datang hampir bersamaan sejak awal 2026.
Pertama, revisi UU P2SK yang memicu keguncangan kepercayaan. Pemerintah dan DPR mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan dalam Sidang Paripurna pada Kamis, 4 Juni 2026. Salah satu poin paling kontroversial: DPR diberikan kewenangan melakukan evaluasi kinerja terhadap Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dengan rekomendasi yang bersifat mengikat. Pasar membaca ini sebagai potensi intervensi politik terhadap independensi lembaga keuangan strategis.
Kedua, tekanan geopolitik dari Timur Tengah. Konflik di kawasan itu terus memanas dan sempat memaksa penutupan lalu lintas Selat Hormuz, menyeret kenaikan harga minyak dunia. Bagi Indonesia sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga minyak langsung menambah beban fiskal dan memperbesar potensi inflasi. Perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sedikit napas, namun sentimen negatif terlanjur dalam.
Ketiga, pelemahan rupiah dan tekanan fiskal. Rupiah ditutup di level Rp18.049 per dolar AS pada 5 Juni 2026 — titik terlemah yang memicu spekulasi Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur darurat di luar jadwal rutin 17-18 Juni 2026. Di sisi fiskal, Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga Mei 2026 mencatat defisit Rp180,4 triliun atau 0,70 persen dari PDB — melonjak dibandingkan defisit Rp20,9 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
“Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor pasar yang direspons negatif oleh pasar kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia.” — Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas (Antara, 5 Juni 2026)
OJK: Pasar Modal Masuk Fase Tekanan

Otoritas Jasa Keuangan secara resmi mengakui kondisi pasar modal sedang dalam fase tekanan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyatakan IHSG pada Mei 2026 ditutup di level 6.127 atau terkoreksi 11,92 persen secara bulanan dan 29,14 persen secara year-to-date per akhir Mei — sebelum koreksi lebih dalam terjadi di pekan pertama Juni 2026.
“Pasar saham domestik mengalami fase tekanan dan konsolidasi sepanjang bulan Mei 2026, di tengah masih tingginya ketidakpastian baik dari domestik maupun global,” ujar Hasan Fawzi dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dalam sepekan terakhir saja, investor asing membukukan net sell Rp7,39 triliun di pasar reguler. Saham paling banyak dilepas asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell mencapai Rp2,29 triliun sepanjang pekan, diikuti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan Rp2,01 triliun. Saham BBCA terkoreksi 10,96 persen dalam sepekan dan ditutup di level Rp5.075 per unit pada Jumat (5/6/2026), menurut data IDXChannel.
Untuk konteks lebih luas, divergensi suku bunga global 2026 turut membebani. Imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi membuat aset emerging market seperti Indonesia kalah kompetitif di mata investor institusional global.
“Revisi UU P2SK menjadi agenda yang tidak tepat waktu — bukan memperkuat independensi BI, melainkan justru memperburuk persepsi investor.” — Achmad Nur Hidayat, Ekonom & Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta (KabarBursa, 7 Juni 2026)
Saham Apa yang Paling Terdampak?

Sektor perbankan menjadi yang paling keras terhantam. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sempat mencatat net sell asing Rp334,7 miliar dalam satu hari (11 Mei 2026), memicu saham BMRI merosot 8,21 persen ke level Rp4.250. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) terkoreksi 13,24 persen dalam sepekan terakhir ke level Rp3.210 per unit.
Di sektor tambang, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat net sell asing Rp266,37 miliar dalam sepekan dan melemah 5,17 persen ke Rp2.750. Kondisi ini konsisten dengan pola yang sudah berlangsung sejak Maret 2026, ketika dalam satu hari perdagangan (26 Maret 2026) investor asing mencatat net sell masif Rp20,71 triliun di seluruh pasar.
Satu-satunya sisi positif: PT Astra International Tbk (ASII) dan beberapa emiten sektor pertambangan emas masih mencatat net buy dari investor asing — menunjukkan masih ada selektivitas, bukan pelarian total. Pemantauan terhadap proyeksi ekonomi Indonesia 2026 penting untuk menilai sektor mana yang masih memiliki daya tahan.
Dampak ke Masyarakat: Lebih Dari Sekadar Angka di Layar

Pelemahan IHSG dan rupiah tidak hanya menyentuh investor pasar modal. Nilai tukar yang melemah langsung berdampak pada harga barang impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat umum. Ini sejalan dengan tekanan yang sudah dirasakan sebelumnya, seperti beban kenaikan harga LPG non-subsidi pada rumah tangga Indonesia.
Risiko inflasi dari kenaikan harga energi global juga berpotensi memperburuk kondisi fiskal domestik — suatu skenario yang telah diingatkan para ekonom sejak eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit APBN saat ini masih terjaga di bawah target 2,68 persen dari PDB yang ditetapkan, dan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat 5,61 persen (yoy). “Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan positif,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Jumat (5/6/2026).
Apa yang Harus Dicermati Selanjutnya?

Ada beberapa katalis yang berpotensi membalik atau memperdalam tekanan dalam waktu dekat:
- Data cadangan devisa Mei 2026 — dijadwalkan rilis 8 Juni 2026. Penurunan signifikan bisa memperkuat tekanan terhadap rupiah.
- RDG Bank Indonesia 17-18 Juni 2026 — atau potensi RDG darurat jika tekanan rupiah berlanjut. Keputusan suku bunga BI akan jadi sinyal kuat bagi pasar.
- Dinamika geopolitik Timur Tengah — eskalasi baru antara Iran dan Israel pada pekan pertama Juni 2026 sudah menaikkan harga minyak lebih dari empat persen dalam sehari. Proyek pipa bypass UEA sebagai jalur alternatif energi menjadi salah satu variabel yang dipantau pasar komoditas global.
- Respons pemerintah terhadap UU P2SK — klarifikasi konkret soal independensi BI dan OJK bisa meredam kepanikan investor institusional.
Analis Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.100 jika tidak ada katalis positif yang signifikan dalam waktu dekat — angka yang akan menjadikan penurunan tahun ini salah satu yang terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia modern.
FAQ
Berapa persen IHSG turun sepanjang 2026?
Berdasarkan data Bloomberg Technoz yang mengutip data BEI, IHSG mencatat pelemahan 37,42 persen secara year-to-date hingga perdagangan 5 Juni 2026, sempat menyentuh level 5.342.
Berapa total net sell investor asing di IHSG 2026?
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net sell Rp72,22 triliun di pasar reguler secara year-to-date hingga 5 Juni 2026.
Apa pemicu utama IHSG anjlok di Juni 2026?
Pengesahan revisi UU P2SK oleh DPR pada 4 Juni 2026 yang memberi kewenangan evaluasi DPR terhadap BI, OJK, dan LPS — memicu kekhawatiran intervensi politik terhadap independensi lembaga keuangan. Ini diperparah eskalasi konflik Iran-Israel dan pelemahan rupiah ke Rp18.049 per dolar AS.
Apakah kondisi ekonomi Indonesia sudah dalam krisis?
Pemerintah melalui Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental ekonomi masih solid: defisit APBN Rp180,4 triliun masih di bawah target 2,68 persen dari PDB, dan pertumbuhan ekonomi Q1-2026 tercatat 5,61 persen. Namun tekanan pasar modal dan nilai tukar menunjukkan ada repricing risiko yang sedang berlangsung.
📬 Dapatkan update analisis pasar dan geopolitik terbaru — ikuti erkutterliksiz.com untuk liputan mendalam setiap hari.





