Politik dan Analisis Ekonomi Negara Maldives
erkutterliksiz.com, 4 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
Maldives, sebuah negara kepulauan di Samudra Hindia, dikenal sebagai destinasi pariwisata mewah dengan keindahan atol karangnya. Namun, di balik pesona alamnya, Maldives menghadapi dinamika politik yang kompleks dan tantangan ekonomi yang signifikan. Sebagai negara berpenduduk sekitar 520.000 jiwa yang tersebar di 185 pulau, Maldives bergantung pada sektor pariwisata dan perikanan, tetapi rentan terhadap ketidakstabilan politik, utang luar negeri, dan ancaman perubahan iklim. Artikel ini akan mengulas secara mendalam lanskap politik dan analisis ekonomi Maldives, termasuk struktur politik, perkembangan politik terkini, kondisi ekonomi, tantangan, dan prospek ke depan.
Lanskap Politik Maldives

Struktur Politik
Maldives adalah republik demokrasi perwakilan presidensial, di mana presiden sebagai kepala pemerintahan menjalankan kekuasaan eksekutif. Presiden, bersama wakil presiden, dipilih langsung oleh rakyat untuk masa jabatan lima tahun, dengan batas dua periode. Kabinet ditunjuk oleh presiden dan harus disetujui oleh parlemen, yang dikenal sebagai People’s Majlis. Majlis terdiri dari 93 anggota yang juga dipilih untuk masa jabatan lima tahun. Sistem hukumnya menggabungkan hukum Islam (syariat) dengan elemen hukum umum Inggris, terutama dalam urusan komersial. Islam adalah agama resmi negara, dan semua warga negara harus beragama Islam, yang memengaruhi politik dan kehidupan sosial.
Maldives memiliki sistem multipartai sejak 2005, dengan partai utama meliputi:
-
People’s National Congress (PNC): Konservatif, pro-Cina, saat ini berkuasa di bawah Presiden Mohamed Muizzu.
-
Maldivian Democratic Party (MDP): Liberal konservatif, pro-India, partai oposisi utama.
-
Progressive Party of Maldives (PPM): Konservatif, sering berkoalisi dengan PNC.
-
Jumhooree Party (JP) dan Maldives Development Alliance (MDA): Partai kecil dengan pengaruh terbatas.
Perkembangan Politik Terkini 
Sejak transisi demokrasi pada 2008, Maldives mengalami ketidakstabilan politik yang ditandai oleh pergantian kekuasaan, protes, dan tuduhan korupsi. Berikut adalah gambaran perkembangan politik signifikan:
-
Era Maumoon Abdul Gayoom (1978–2008): Gayoom memimpin selama 30 tahun dengan sistem otoriter, memajukan ekonomi melalui pariwisata, tetapi dikritik karena membatasi kebebasan politik.
-
Transisi Demokrasi (2008): Mohamed Nasheed dari MDP memenangkan pemilu presidensial multipartai pertama, mengakhiri kekuasaan Gayoom. Nasheed fokus pada reformasi ekonomi, kebebasan pers, dan isu perubahan iklim, tetapi mengundurkan diri pada 2012 di tengah protes dan tuduhan otoritarianisme.
-
Krisis Politik (2012–2018): Pemerintahan Abdulla Yameen (2013–2018) dari PPM ditandai dengan korupsi, pembatasan kebebasan pers, dan penahanan oposisi, termasuk Nasheed. Yameen juga mendekatkan Maldives ke Cina melalui proyek infrastruktur besar.
-
Kemenangan Ibrahim Mohamed Solih (2018–2023): Solih dari MDP memenangkan pemilu 2018 dengan platform reformasi dan transparansi. Pemerintahannya meningkatkan hubungan dengan India, mengurangi korupsi (peringkat Transparency International naik dari 130 pada 2019 ke 85 pada 2021), dan membawa Maldives kembali ke Persemakmuran. Namun, Solih menghadapi tantangan ekonomi akibat pandemi COVID-19 dan utang yang meningkat.
-
Kemenangan Mohamed Muizzu (2023–sekarang): Muizzu dari PNC memenangkan pemilu 2023 dengan 54% suara, mengalahkan Solih. Kampanyenya berfokus pada “India Out,” menyerukan penarikan pasukan India dan mengurangi pengaruh India. Pada April 2024, PNC memenangkan 66 kursi di Majlis, memberikan mayoritas super yang memungkinkan perubahan konstitusi. Muizzu juga mempererat hubungan dengan Cina, tetapi baru-baru ini menunjukkan sikap pragmatis dengan mengunjungi India pada Oktober 2024 untuk menegosiasikan keringanan utang dan perjanjian perdagangan.
Tantangan Politik
-
Polarisasi Politik: Persaingan antara kubu pro-India (MDP) dan pro-Cina (PNC/PPM) telah memicu ketegangan domestik dan memengaruhi kebijakan luar negeri.
-
Korupsi: Meskipun ada kemajuan, korupsi tetap menjadi masalah, dengan praktik seperti suap dan nepotisme melemahkan kepercayaan publik.
-
Kebebasan Pers: Maldives berada di peringkat 106 dari 180 dalam Indeks Kebebasan Pers 2024 (Reporters Without Borders), dengan jurnalis menghadapi tekanan dan kekerasan.
-
Geopolitik: Maldives menjadi arena persaingan pengaruh antara India dan Cina, yang memengaruhi keputusan politik dan ekonomi.
-
Ketimpangan Regional: Pembangunan terkonsentrasi di ibu kota Malé, menyebabkan ketimpangan sosial dan ekonomi di pulau-pulau lain.
Analisis Ekonomi Maldives 
Gambaran Umum Ekonomi
Maldives adalah ekonomi berpenghasilan menengah atas dengan PDB per kapita sekitar USD 25.124 (PPP, 2022). Ekonomi campuran negara ini sangat bergantung pada pariwisata (28–30% PDB) dan perikanan (4% PDB), dengan sektor industri (10,3%) dan pertanian (4,9%) memainkan peran kecil karena keterbatasan lahan dan tenaga kerja.
Sektor Utama:
-
Pariwisata: Menyumbang lebih dari 60% pendapatan devisa dan 90% pajak pemerintah berasal dari bea masuk dan pajak terkait pariwisata. Pada 2024, kedatangan turis mencapai 1,49 juta (Januari–September), melebihi level pra-COVID, dengan pasar utama dari Cina (15%), Rusia (11%), dan Inggris (8%). Namun, penurunan turis India sebesar 40% akibat ketegangan diplomatik memengaruhi pendapatan.
-
Perikanan: Sektor terbesar kedua, fokus pada penangkapan tuna dengan metode pole-and-line yang berkelanjutan. Perikanan menyumbang 98% ekspor fisik, tetapi menghadapi tantangan seperti penurunan stok ikan akibat perubahan iklim dan gangguan rantai pasok.
-
Industri dan Pertanian: Industri terbatas pada pembuatan kapal, kerajinan tangan, dan pengolahan ikan, menyumbang 7–10% PDB. Pertanian, terutama kelapa dan tanaman tropis, hanya mencakup 4.000 hektar dan sebagian besar untuk konsumsi lokal.
Indikator Ekonomi
-
Pertumbuhan PDB: Setelah kontraksi akibat pandemi COVID-19, ekonomi rebound dengan pertumbuhan 37,7% (2021) dan 13,9% (2022). Pada 2023, pertumbuhan melambat ke 4,4% karena penurunan pengeluaran per turis, tetapi diproyeksikan mencapai 5,2% pada 2024, didorong oleh ekspansi bandara Velana dan kapasitas akomodasi.
-
Inflasi: Inflasi pada 2023 mencapai 2,9%, lebih tinggi dari rata-rata historis 0,5%, akibat kenaikan harga komoditas global dan pajak barang dan jasa (GST). Pada 2024, inflasi tetap moderat di 0,8% (Januari–September), tetapi harga pangan naik 6,1%.
-
Defisit Fiskal: Defisit anggaran tetap tinggi, diproyeksikan mencapai 9,8% PDB pada 2027 tanpa konsolidasi fiskal yang signifikan.
-
Utang Publik: Total utang meningkat dari USD 3 miliar (2018) ke USD 8 miliar (2023), sebagian besar ke Cina dan pemberi pinjaman swasta. Risiko gagal bayar tinggi, mendorong negosiasi keringanan utang dengan India.
-
Kemiskinan: Tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,2% pada 2024 (garis kemiskinan USD 8,30/hari, PPP 2021), tetapi ketimpangan pendapatan tetap tinggi dengan koefisien Gini 0,41.
Tantangan Ekonomi
-
Ketergantungan pada Pariwisata: Ekonomi Maldives rentan terhadap guncangan eksternal, seperti pandemi, konflik geopolitik, atau boikot turis (misalnya, kampanye #BoycottMaldives di India).
-
Krisis Utang: Utang luar negeri yang besar, terutama ke Cina, meningkatkan risiko default. Pemerintah Muizzu berupaya menegosiasikan keringanan utang, tetapi tanpa reformasi struktural, masalah ini akan berlanjut.
-
Perubahan Iklim: Sebagai negara dengan ketinggian rata-rata 1 meter di atas permukaan laut, Maldives sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut, yang mengancam infrastruktur pariwisata dan sumber air tawar.
-
Diversifikasi Ekonomi: Keterbatasan lahan dan sumber daya menghambat pengembangan sektor di luar pariwisata dan perikanan. Upaya diversifikasi, seperti teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau ekonomi biru, masih dalam tahap awal.
-
Ketimpangan Regional: Pendapatan di Malé 75% lebih tinggi dibandingkan pulau lain, menyebabkan kesenjangan sosial dan ekonomi.
-
Demografi dan Pensiun: Dengan harapan hidup meningkat menjadi 80 tahun (2022) dan 1 dari 8 penduduk diproyeksikan berusia di atas 65 tahun pada 2050, biaya pensiun melonjak menjadi 2% PDB, membebani keuangan publik.
Prospek Ekonomi
Prospek ekonomi Maldives bergantung pada beberapa faktor:
-
Peningkatan Pariwisata: Ekspansi bandara Velana dan kapasitas hotel diperkirakan mendorong pertumbuhan PDB rata-rata 5,3% dalam jangka menengah. Namun, diversifikasi pasar turis diperlukan untuk mengurangi dampak boikot seperti dari India.
-
Reformasi Fiskal: Penggantian subsidi harga dengan subsidi bertarget pada 2024 dapat mengurangi tekanan inflasi, tetapi memerlukan pengelolaan yang hati-hati untuk melindungi kelompok rentan.
-
Investasi Infrastruktur: Investasi dari International Finance Corporation (IFC) sebesar USD 250 juta sejak 1983, termasuk USD 50 juta untuk Bank of Maldives dan USD 35 juta untuk penyedia telekomunikasi Dhiraagu, mendukung pertumbuhan sektor swasta dan transformasi digital.
-
Kemitraan Geopolitik: Hubungan dengan India dan Cina akan menentukan akses ke bantuan keuangan dan investasi. Kunjungan Muizzu ke India pada 2024 menunjukkan keseimbangan strategis untuk mengamankan dukungan dari kedua negara.
-
Adaptasi Iklim: Investasi dalam infrastruktur tahan iklim dan energi terbarukan akan krusial untuk keberlanjutan jangka panjang.
Interaksi Politik dan Ekonomi
Politik dan ekonomi di Maldives saling terkait erat, dengan keputusan politik memengaruhi stabilitas ekonomi dan sebaliknya:
-
Geopolitik dan Utang: Kampanye “India Out” Muizzu awalnya memperkuat hubungan dengan Cina, tetapi krisis utang mendorongnya mendekati India untuk keringanan pinjaman, menunjukkan pragmatisme politik.
-
Korupsi dan Kepercayaan Investor: Korupsi yang berkelanjutan melemahkan kepercayaan investor asing, meskipun reformasi Solih meningkatkan peringkat transparansi.
-
Pariwisata dan Diplomasi: Ketegangan dengan India menyebabkan penurunan turis India, yang sebelumnya menjadi pasar terbesar pada 2020, menekankan pentingnya hubungan diplomatik untuk ekonomi.
-
Pengeluaran Politik: Penunjukan lebih dari 300 menteri dan 2.000 pejabat politik oleh Muizzu meningkatkan pengeluaran bulanan sebesar USD 65 juta, memperburuk defisit anggaran.
Rekomendasi Kebijakan
-
Diversifikasi Ekonomi: Dorong investasi di sektor TIK, energi terbarukan, dan pertanian hidroponik untuk mengurangi ketergantungan pada pariwisata.
-
Reformasi Fiskal: Terapkan pajak progresif, tingkatkan cakupan pensiun kontributif, dan kurangi ketergantungan pada pinjaman eksternal.
-
Pengelolaan Utang: Negosiasikan keringanan utang dengan kreditur utama seperti Cina dan India, sambil meningkatkan transparansi pengeluaran publik.
-
Diplomasi Seimbang: Pertahankan hubungan baik dengan India dan Cina untuk mengamankan bantuan ekonomi tanpa mengorbankan kedaulatan.
-
Adaptasi Iklim: Tingkatkan investasi dalam infrastruktur tahan iklim, seperti tanggul dan sistem pengelolaan air, untuk melindungi sektor pariwisata.
-
Pemberdayaan Regional: Alokasikan lebih banyak sumber daya untuk pembangunan di pulau-pulau luar Malé untuk mengurangi ketimpangan.
Kesimpulan
Maldives berada pada persimpangan kritis, dengan lanskap politik yang dipengaruhi oleh polarisasi domestik dan persaingan geopolitik antara India dan Cina. Ekonomi negara ini, yang sangat bergantung pada pariwisata, menunjukkan ketahanan pasca-pandemi, tetapi menghadapi tantangan serius dari utang luar negeri, perubahan iklim, dan ketimpangan regional. Pemerintahan Muizzu harus menyeimbangkan reformasi ekonomi dengan stabilitas politik, sambil menavigasi tekanan geopolitik, untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat, termasuk diversifikasi ekonomi, pengelolaan utang yang bijaksana, dan investasi dalam adaptasi iklim, Maldives dapat mempertahankan statusnya sebagai ekonomi berpenghasilan menengah atas sambil mengatasi tantangan jangka panjang.
BACA JUGA: Panduan Lengkap Travelling ke Negara Saint Kitts and Nevis
BACA JUGA: Lingkungan, Sumber Daya Alam, dan Penduduk Republik Negara Saint Kitts and Nevis
