
Ringkasan Cepat:
Singapura, 05 Agustus 2026 — Harga minyak dunia anjlok sekitar 7 persen pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026) waktu setempat, setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan baru ke Iran demi membuka peluang kesepakatan pasokan dari kawasan Teluk.
Mengapa Ini Penting?

Harga minyak mentah Brent kontrak Oktober turun 6,35 dolar AS, atau 7 persen, menjadi 83,77 dolar AS per barel. Penutupan ini menjadi yang terendah bagi Brent sejak 13 Juli 2026. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut terkoreksi 4,33 dolar AS, atau 5,1 persen, ke level 80,34 dolar AS per barel.
Penurunan tidak hanya dipicu sentimen geopolitik. Pergantian kontrak acuan turut berperan: kontrak Oktober yang lebih murah mulai menjadi rujukan pasar setelah kontrak September berakhir masa berlakunya pada Jumat sebelumnya.
Sepanjang Juli, harga Brent sempat melonjak hingga 25 persen — kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 2026 — akibat eskalasi ketegangan yang meluas hingga Laut Merah dan Yordania. Anjloknya harga pada Senin membalikkan sebagian besar lonjakan tersebut dalam waktu singkat.
Isu pembukaan kembali Selat Hormuz sebenarnya bukan hal baru. Pada Mei 2026, AS dan Iran sempat mencapai kesepakatan awal untuk membuka Selat Hormuz sebelum ketegangan kembali memuncak beberapa bulan kemudian.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia biasanya diikuti penyesuaian harga BBM nonsubsidi dalam beberapa pekan. Pertamina sebelumnya sudah menurunkan harga Pertamax menjadi Rp15.950 per liter mulai 1 Agustus 2026, mengikuti tren pelemahan harga minyak global pekan-pekan terakhir.
“Reaksi pasar sangat cepat dan tegas.” — Tony Sycamore, Analis Pasar IG, dikutip Reuters
Reaksi dan Dampak

Analis di Ritterbusch and Associates menilai penurunan tajam ini sebagai reaksi berlebihan pasar terhadap sinyal Trump bahwa kesepakatan dengan Iran sudah dekat, setelah sebelumnya ia sempat mengancam serangan besar-besaran pada akhir pekan.
“Trump terus menunjukkan pola menekan harga energi lewat pernyataannya.” — Ritterbusch and Associates, dalam catatan riset
Trump menyampaikan pembatalan serangan lewat Truth Social, dengan syarat kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz segera tercapai. Keputusan ini juga menyusul desakan sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, yang meminta Washington memprioritaskan jalur negosiasi.
Trump pada hari yang sama juga kembali mendesak perusahaan minyak AS menurunkan harga bensin domestik, sambil mengkritik Chevron dan Exxon Mobil karena dinilai meraup keuntungan berlebih di tengah gejolak harga.
Di sisi produksi, negara-negara OPEC+ telah menyetujui kenaikan kuota produksi terbatas untuk melanjutkan pemulihan pasokan yang sempat dipangkas sejak 2023. Turki dan Irak juga menyepakati perpanjangan perjanjian pipa minyak selama satu tahun dengan kapasitas hingga 750.000 barel per hari, sebagai jalur ekspor alternatif — mengikuti langkah serupa yang sebelumnya diambil UEA lewat pipa bypass Selat Hormuz untuk mengurangi ketergantungan pada jalur laut rawan konflik itu.
Ketegangan di kawasan sempat memicu langkah militer konkret sebelumnya, termasuk saat AS menyita tanker minyak Iran pada April 2026 — salah satu insiden yang memperkuat premi risiko geopolitik di pasar minyak.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian |
|---|---|
| Jumat, 31 Juli 2026 | Iran serang dua kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak naik |
| Akhir pekan (1–2/8/2026) | Trump ancam serangan besar-besaran ke Iran |
| Senin, 3/8/2026 | Trump umumkan pembatalan serangan lewat Truth Social |
| Senin, 3/8/2026 (malam AS) | Brent anjlok 7% ke US$83,77, WTI turun 5,1% ke US$80,34 |
Apa Selanjutnya?

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi perundingan dengan Oman soal rute alternatif di kawasan Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun pihak Iran belum memberikan kepastian mengenai status operasional penuh selat tersebut ke depan.
Analis ING sebelumnya memperingatkan pasar berpotensi kembali menghadapi tekanan pasokan pada akhir Juli jika arus minyak melalui Hormuz tidak pulih — sebuah risiko yang masih relevan mengingat belum ada kepastian dari Teheran. Pola ini mengingatkan pada April 2026, ketika Selat Hormuz sempat dibuka kembali untuk dua kapal tanker sebelum blokade kembali diberlakukan tak lama setelahnya.
Kehadiran militer di kawasan juga tetap jadi faktor yang dipantau pasar, mengingat AS sebelumnya memperkuat pangkalan angkatan laut di dekat Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Pelaku pasar kemungkinan akan terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran serta realisasi kesepakatan pembukaan Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.







